-->

Sebuah Senandika

Sebuah Senandika (Artikel ke-100)



Teruntuk para temanku dan dirimu, untuk yang pernah ataupun masih mendukung tulisanku.

Tulisan ini akan sedikit berbeda, bukan lagi sekedar artikel yang berisi informasi seperti biasa, bahkan bisa jadi tulisan ini merupakan campuran karya tulis yang kutahu.

Mungkin ini artikel yang berisi sebuah opini? Esai? Sebuah pengalaman pribadi atau bahkan sebuah puisi? Atau bahkan sebuah Senandika. Yang baru saja kutahu. Biar kusebut ini Senandika.

Dalam tulisan yang akan  kutaruh dalam blog pribadi ini, akan berisi semuanya, rasa syukur karena dapat mencapai artikel ke 100. Hingga berbagai lika-liku yang kuhadapi dalam proses yang dijalani.

Mungkin saja akan aku awali dari sebuah hari, dimana untuk pertama kali aku memberi tahu seseorang mengenai keinginanku membuat sebuah blog.

Duduk berdua dan menceritakan cerita masing-masing, hingga aku bertanya “enaknya membuat blog tema game atau olahraga?”

Dan dirimu menjawab dengan jawaban yang entah kenapa tidak terpikirkan olehku.

“Kenapa tidak keduanya?”

“oh iya, kenapa gak keduanya, hehe”.

Jawabku singkat, dan seiring waktu kamulah yang menjadi pendukung awalku sebagai seorang blogger. Yang sangat-sangat pemula dan hanya memiliki tujuan untuk mendapat uang dari adsense.

“Hehe ternyata tidak semudah itu,” itu yang kupikirkan sekarang.

Dan mungkin bermula dengan laptop lama yang kumiliki, yang keyboardnya suka rusak. Berjalan sendiri, menghapus, mengetik dengan sendiri maksudnya.

Aku sendiri lebih suka menulis di Microsoft word daripada gdoc. Padahal banyak kawan yang menyarankan gdoc.

Tapi ah, sudahlah itu semua tak penting. Yang terpenting tulisanku selesai. Bahkan karena keyboard yang rusak akhirnya aku menulis di HP butut yang kupunya. Menulis di grup WA yang berisi hanya aku seorang. Lalu ku copas ke dalam laptop. Yang selalu error hingga membuatku frustasi sampai mau nangis hehe.

Dan ia sebagai orang yang mendengar segala keluh kesahku, keluh kesah yang sebenarnya bisa kuhadapi sendiri. Terlalu manja kurasa diriku dulu.

Hingga terbeli laptop baru, yang berasal dari uang warisan sawah kakekku. Dan yang terpikirkan olehku saat laptop ini terbeli adalah bagaimana aku mengembalikan uang ini, meski tidak ada yang meminta.

Kuharap dengan menulis di blog dapat mengganti uang yang hilang itu.

Dan inilah sedikit dari kebodohanku, berharap terlalu tinggi mengenai karir blog ku, dan berharap terlalu tinggi terhadap dirimu.

Dan kuketahui saat ini, kuketahui mengenai apa itu proses. Apa itu instan yang merupakan hal yang kubenci setelah aku mengenal apa itu proses.

Namun, terima kasih. Karena dirimu jugalah blog ini tetap hidup dan berisi 100 artikel. Karena semangat dan rasa kesal yang bercampur aduk. Karena tak ada lagi dirimu sejak artikel ke 10.  

Engkau yang pernah bilang kalau “Jangan mendengar omongan orang lain, lihat banyak penulis yang sukses kayak Raditya Dika, Tere Liye, gausah dihiraukan omongan orang lain”.

Yang masih terngiang disini, dikepalaku, tak usah kuceritakan hal buruk tentangmu. Tak ada lagi yang bisa kuingat, tak mau lagi lebih tepatnya.

Tapi pada artikel yang ke 100 ini, apakah kau membacanya seperti 10 artikel pertamaku dulu? Yang belum ada unsur SEO, belum ada adsense, belum ada riset keyword, yang ada adalah dirimu sebagai editor pribadiku.

Yang amat kusayang dan hargai, namun seperti kata temanku. “Jangan berharap terlalu tinggi.” Awalnya kukira hanya sebuah kata-kata belaka, namun ternyata kejadian yang nyata.

Kau sendiri pernah bilang jika akan selalu berada dibelakangku. Selalu menjadi pendukung pribadiku, dan aku akan selalu berada disampingmu.

Namun, takdir tak mendukung. Jika memang itu semua yang kau inginkan. Aku sudah ikhlas untuk saat ini.

Hampir menyerah karena tujuan awal yang dirasa salah, menulis di blog karena ingin memeroleh uang adsense saja. Namun ternyata seiring waktu, menulis menjadi passion yang nyata.

Kebiasaan yang baru, yang dapat membuatku mengingat dan melupakanmu dalam satu waktu. 

Yang kutahu adalah diriku membiarkan waktu yang terbuang untuk menulis, menulis, dan menulis. Karena bertahan dalam situasi yang tak pasti. Itu menyakitkan. Namun bangga karena dapat melalui itu semua.

Artikel ke 100 ini, akan menjadi sebuah pengingat untuk setiap orang yang selalu mendukungku. Untuk Adam yang menjadi editor pribadi juga, selain dirimu tentunya.

Beruntung juga diriku masuk IMM dan membuatku lebih mendalami tulis menulis dan membuatku semangat membaca. Teman IMM yang sangat mendukung dan menghargai karyaku.

Teman kuliahku yang juga selalu mendukung dan memberi saran. Dan untuk selanjutnya, mungkin akan kuperkuat keputusanku menjadi seorang penulis.

Yang kutahu tidak akan mudah, karena menjadi penulis adalah kesiapanmu untuk memberi kenyamanan pada diri sendiri ketika sepi.

Terima kasih pernah mendukungku, untuk semuanya. Dan yang entah kemana sekarang, dirimu. Juga terima kasih.

Hari ini, hari dimana aku menulis Senandika ini adalah hari dimana pengunjung blog ku telah mencapai 10.000. Kurasa bukan pencapaian yang tinggi, namun bersyukur adalah hal yang harus.

Untuk 100 artikel pertama, dan untuk 100 artikel selanjutnya. Kurasa akan semakin banyak cerita, entah yang bahagia maupun yang patah.

Aku sadar ini juga fase pendewasaan, mengenai tulisan yang sekarang menyatu dengan seluk beluk kegiatanku. Dan tentangmu, yang sulit untuk dilupakan namun sudah kuikhlaskan.

Kelak, jika memang kita tidak berakhir dengan mimpi yang sama, bisakah kau berakhir dalam sebuah senandika.


Mohammad Rizal Abdan Kamaludin Seorang gamer yang mau pensi karena sadar akan penting nya membaca dan menulis.

1 Komentar untuk "Sebuah Senandika"

  1. Keren sekali...
    Semoga menambah keberkahan dari hari ke hari... Aamiin

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel